Dampak Intermitten Fasting Terhadap Kadar Gula pada Pasien Penderita Diabetes Melitus
Pendahuluan
Diabetes
Melitus atau disebut juga dengan DM merupakan sebuah kondisi gangguan
metabolisme yang terjadi ketika kadar gula darah meningkat. Hal ini terjadi
karena kurangnya insulin yang dihasilkan oleh sel sel beta pankreas atau
singkatnya tubuh tidak merespon insulin (Mesa, 2020). Perlu diketahui
bahwasanya diabetes dapat disebabkan dari berbagai faktor misalnya faktor
genetik dan gaya hidup yang dilakukan seseorang. Penyakit ini dapat memengaruhi
beberapa sistem organ tubuh pada manusia dalam waktu tertentu yang disebut
dengan komplikasi (Lestari et al., 2021).
Pada
era modern ini intermittent fasting dipercaya sebagai salah satu pola
hidup yang sehat karena berbagai manfaatnya yang telah di dukung oleh berbagai
penelitian ilmiah. Metode ini tidak hanya untuk menurunkan berat badan, tetapi
juga berperan penting dalam meningkatkan kesehatan metabolisme tubuh. seperti
meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kadar gula darah, kadar lemak,
dan tekanan darah (Sourij et al., 2023). Metode intermittent fasting
adalah pola makan yang waktu makan nya diatur sedemikian rupa antara waktu
makan dan puasa, sehingga jumlah kalori yang dikonsumsi dapat dibatasi
(Safitri, Meidiyani, 2023).
Metode Penelitian
Penelitian ini mengadopsi
pendekatan kualitatif dengan tujuan memahami secara mendalam terkait pengalaman
dan kondisi pasien yang menjalani metode intermittent fasting. Menurut
Sugiyono (2018), metode penelitian kualitatif merupakan sebuah metode yang
berlandaskan pada filsafat dan digunakan untuk meneliti dalam konteks ilmiah
(eksperimen), di mana peneliti berperan sebagai instrumen. Teknik pengumpulan
data serta analisis yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, di
mana penekanan tertuju pada makna. Pada penelitian ini peneliti lebih
menekankan kepada kajian literatur untuk menarik kesimpulan mengenai sebuah
topik dampak intermitten fasting terhadap kadar gula pada pasien penderita diabetes melitus.
Hasil Dan Pembahasan
Hasil
penelitian (Suleiman et al., 2018) menunjukkan pasien pertama yang menjalani
puasa 24 jam, 3 kali seminggu didapatkan hasil yang signifikan dengan penurunan
HbA1c menjadi 7% (53 mmol/mol) dengan inisiasi HbA1c 11% (96.7 mmol/mol). Gula
darah pasien pertama berada di kisaran 5 hingga 10. Selain itu adanya penurunan
berat badan sebesar 12% dan lingkar pinggang mengalami penurunan sebesar 13%.
Pasien kedua juga menjalani pola yang sama juga mengalami perubahan penurunan
HbA1c menjadi 6% (42.1 mmol/mol) dengan inisiasi HbA1c 7.2% (55.2 mmol/mol).
dan gula darah pasien kedua berada di kisaran 5 hingga 6. Ia dapat menjalani
puasa dengan sangat baik, dan mengalami penurunan berat badan sebesar 18% serta
penurunan lingkar pinggang sebesar 22%. Sedangkan pasien ketiga tetap memiliki
kadar HbA1c yang rendah selama puasa karena ia juga berhenti menggunakan
insulin dan obat oral hypoglycaemic dengan nilai akhir HbA1c nya 6.2%
(44.3 mmol/mol) dengan inisiasi HbA1c 6.8% (50.8 mmol/mol). Pasien ketiga ini
menjalani puasa dengan mudah, dan adanya penurunan berat badan sebesar 10%
serta lingkar pinggangnya menjadi lebih kecil. Pada penelitian ini HbA1c
menjadi salah satu parameter penting untuk mengetahui risiko terjadinya
komplikasi pada penyakit diabetes mellitus.
Hasil
penelitian (Nurul et al., 2024) diketahui bahwa mencit yang menjalani puasa 12
jam di siang dan malam hari mengalami penurunan kadar glukosa darah dan
penurunan berat badannya. Sementara mencit yang tidak berpuasa selama 12 jam
mengalami peningkatan kadar glukosa darah. Penurunan kadar glukosa darah yang
lebih jelas terlihat pada mencit yang berpuasa 12 jam di malam hari, hal ini
dikarenakan mencit lebih aktif ketika malam hari.
Hasil
penelitian (Mahreen et al., 2021) menunjukkan adanya 3 pasien diabetes melitus
yang menjalani intermittent fasting dalam jangka waktu yang bervariasi.
Pasien pertama berusia 40 tahun, menjalani puasa tiga kali dalam seminggu
selama tujuh bulan didapatkan hasil HbA1c turun dari 11% (96.7 mmol/mol)
menjadi 7% (53 mmol/mol). Dan berat badan dari 83.8 kg menjadi 73.8 kg. Setelah
menjalani selama 5 hari ia dapat menghentikan insulin namun tetap menggunakan canagliflozin
300 mg. Pasien kedua berusia 52 tahun, menjalani intermittent fasting tiga
kali dalam seminggu selama 11 bulan. didapatkan HbA1c turun dari 7,2% (55.2
mmol/mol) menjadi 6% (42.1 mmol/mol). Dan berat badan dari 61 kg menjadi 50,4
kg. Setelah 18 hari pasien dapat menghentikan insulin tanpa terapi diabetes
lanjutan. Sementara itu pasien ketiga berusia 67 tahun, menjalani puasa dengan
hari yang selang-seling (Alternating days fasting) selama 11 bulan. HbA1c
turun dari 6.8% (50.8 mmol/mol) menjadi 6.2% (44.3 mmol/mol) dan berat badan
dari 97.1 kg menjadi 88.1 kg. Pasien ketiga pun juga berhasil menghentikan
penggunaan mtformin dan insulin tanpa obat diabetes lanjutan. Berdasarkan
informasi ini menunjukkan bahwa intervensi intermittent fasting
berpotensi signifikan menurunkan HbA1c, berat badan, serta mengurangi atau
menghentikan kebutuhan Obat-Obatan diabetes pada ketiga pasien.
Pada
penelitian (Charlene et al., 2020), sebelumnya pasien telah menjalani diet
ketogenic (KD) dan pada 2 minggu kemudian baru menjalani intermittent
fasting. Awalnya. Empat minggu setelah memulai perubahan pada pola makan,
pasien berhenti mengonsumsi semua obat termasuk metformin,
antihypertensive and statin. Sekaligus ia dapat mengontrol kadar gula
darah. Didapatkan hasil HbA1c dari yang awalnya 9,3% turun menjadi 6,4% selama
4 bulan pertama menjalani intermittent fasting. Di bulan ke 14 HbA1c
kembali turun menjadi 5,8%. Di sisi lain berat badan pasien juga mengalami
penurunan yang di awal pelaksanaan intermittent fasting berat nya
mencapai 57,8 kg, pada bulan ke 14 berat badan nya menjadi 53,5 kg. Intermittent
fasting dan diet ketogenik (KD) dinilai sangat efektif bila diterapkan
secara bersamaan karena keduanya saling melengkapi dalam pola makan. KD akan
berfokus pada jenis makanan yang boleh atau tidak boleh dikonsumsi, sedangkan
IF memberikan arahan mengenai kapan harus makan tanpa menentukan komposisi makanan
(Charlene et al., 2020).
Berdasarkan
hasil wawancara dan observasi (Hanny et al., 2023) pada responden pertama yang
sejak tahun 2008 telah menderita diabetes melitus tipe 2 menjalani intermittent
fasting dengan metode 16/8 jam selama 5 hari tidak menunjukkan perubahan
yang signifikan terutama pada gula darah yang cenderung masih tinggi dari (225
mg/dl) lalu di hari ketiga menjadi (223 mg/dl) dan di hari kelima kembali lagi
menjadi (225 mg/dl). Disebabkan responden tidak mematuhi dalam menjalankan intermittent
fasting yang diberikan dengan tetap mengonsumsi cemilan dan makan tidak
sesuai pada waktunya. Sebaliknya, responden kedua yang juga mengalami diabetes
melitus sejak tahun 2021. Menunjukkan adanya penurunan kadar gula darah setelah
menjalani intermittent fasting dengan metode 16/8 jamnselama 5 hari.
Kadar gula darah yang awalnya (220 mg/dl) dihari kelima menjadi (202 mg/dl).
Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwasanya
metode intermittent fasting dapat menurunkan kadar gula darah dan
indeks massa tubuh apabila dilakukan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan
(Trisnawati et al., 2023).
Dengan
demikian, dari sejumlah penelitian yang ditemukan terbukti bahwasannya metode intermittent
fasting memberikan pengaruh yang besar dan berpotensi menjadi alternatif
yang efektif untuk mengontrol kadar gula darah bagi pasien yang menderita diabetes melitus.
Kesimpulan
Kesimpulannya,
metode intermittent fasting menunjukkan dampak positif yang signifikan
terhadap pengendalian kadar gula darah pada pasien penderita diabetes melitus.
Metode intermittent fasting tidak hanya menurunkan HbA1c dan kadar gula
darah secara efektif, namun ia juga dapat menurunkan berat pasien. Apabila
pasien dapat konsisten menjalankan pola makan ini ada kemungkinan besar dapat
mengurangi atau menghentikan konsumsi obat-obatan diabetes yang sebelum nya
dikonsumsi. Keberhasilan metode intermittent fasting tentu nya
tergantung bagaimana pasien mematuhi aturan puasa dan pola makan yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu, metode ini sangat efektif digunakan asalkan
penderita mampu konsisten menjalani puasa.
Daftar Pustaka
Rusdi,
M. S. (2020). Hipoglikemia pada pasien diabetes melitus. Journal Syifa Sciences
and Clinical Research, 2(2), 83-90.
Lestari,
L., & Zulkarnain, Z. (2021, November). Diabetes Melitus: Review etiologi,
patofisiologi, gejala, penyebab, cara pemeriksaan, cara pengobatan dan cara
pencegahan. In Prosiding Seminar Nasional Biologi (Vol. 7, No. 1, pp. 237-241).
Safitri,
M. (2023). PENGARUH INTERMITTENT FASTING TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PUASA,
AKTIVITAS SIRTUIN 1 DAN KADAR ANTIOKSIDAN TOTAL PADA TIKUS RATTUS NORVERGICUS
GALUR WISTAR MODEL DIABETES MELITUS.
Junaid,
N. M., Makmun, H. A., Ningsi, I. W., Julyani, S., & Rasfayanah, R. (2024).
Pengaruh puasa 12 jam terhadap kadar glukosa darah puasa dan berat badan pada
mencit (Mus musculus) hiperglikemia induksi aloksan. MAHESA: Malahayati Health
Student Journal, 4(7), 2986-2998.
Furmli,
S., Elmasry, R., Ramos, M., & Fung, J. (2018). Therapeutic use of
intermittent fasting for people with type 2 diabetes as an alternative to
insulin. Case Reports, 2018, bcr-2017.
Saeed,
M., Ali, M., Zehra, T., Zaidi, S. A. H., & Tariq, R. (2021). Intermittent
fasting: a user-friendly method for type 2 diabetes mellitus. Cureus, 13(11).
Trisnawati,
Anggraini, R. B., & Nurvinanda, R. (2023). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Terjadinya Ulkus Diabetikum Pada Penderita Diabetes Melitus. Indonesian
Journal of Nursing and Health Sciences, 4(2), 85–94. https://doi.org/https://doi.org/10.37287/ijnhs.v4i2.
Sugiyono.
2018. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Lichtash,
C., Fung, J., Ostoich, K. C., & Ramos, M. (2020). Therapeutic use of
intermittent fasting and ketogenic diet as an alternative treatment for type 2
diabetes in a normal weight woman: a 14-month case study. BMJ Case Reports CP,
13(7), e234223.
Irmaya,
H., Yanti, Y., & Vionika, T. (2023). Application of Intermittent Fasting to
Changes in Blood Sugar Levels in Type 2 Diabetes Mellitus Patients. Indonesian
Journal of Global Health Research, 5(3), 541-546. https://doi.org/10.37287/ijghr.v5i3.5757.
Obermayer,
A., Tripolt, N. J., Pferschy, P. N., Kojzar, H., Aziz, F., Müller, A., Schauer,
M., Oulhaj, A., Aberer, F., Sourij, C., Habisch, H., Madl, T., Pieber, T.,
Obermayer-Pietsch, B., Stadlbauer, V., & Sourij, H. (2023). Efficacy and
Safety of Intermittent Fasting in People With Insulin-Treated Type 2 Diabetes
(INTERFAST-2)-A Randomized Controlled Trial. Diabetes care, 46(2), 463–468.
https://doi.org/10.2337/dc22-1622
Komentar
Posting Komentar